Gaudeamus igitur; Semper ubi uber, ibi tuber.

"Di mana ada kemaluan, di situ ada persoalan; oleh karenanya berbahagialah."

Jika Kau Berkata





Jika kau berkata
Kau butuh diperhatikan
Apa itu hanya untukmu semata?
Tidakkah aku pun merasakan?


Jika kau berkata
Temani aku disini
Apa itu hanya untuk dirimu semata?
Tidakkah kau tahu aku pun sendiri?


Jika kau berkata
Kau butuh teman bicara
Apa itu hanya untukmu semata?
Dimana kau saat khayalku mengembara?


Jika kau berkata
Wanita ingin dimengerti
Apa itu hanya untukmu saja?
Tidakkah lelaki pun seperti?


Jika kau tak berkata
Dan mau membuka mata
Dan mencoba ada di sini
Kelak kau akan bisa pahami

Segelas Air Bening

Inilah segelas air bening
Yang berubah menjadi kopi
Yang menemaniku di malam hening
Saat semua beranjak sepi


Ya inilah segelas air bening
Seketika berubah menjadi teh hangat
Saat aku merasa pusing
Dan lelah hilang semangat


Inipun segelas air bening
Yang kurasakan sebagai susu
Tersaji di atas tatakan piring
Untuk segarkan badanku yang lesu


Segelas air bening untukmu
Ku berkata pada diriku
Menjadi apapun ia seperti ku minati
Dan aku berkata "Selamat menikmati"

HOMO SAPAANS

Jadi, kalau dari dulu kita belajar bahwa manusia itu termasuk kategori Homo Sapiens (entah apa itu artinya) ternyata telah ditemukan satu kategori baru yang mana manusia termasuk di dalamnya. Yaitu Homo Sapaans. Jangan coba cari artinya di kamus apa pun. Terutama kamus biologis, eh biologi. Homo Sapaans itu sendiri terdiri dari dua kata ‘Homo’ dan ‘Sapaans’. ‘Homo’ artinya sejenis dan ‘Sapaans’ itu artinya teguran atau panggilan. Jadi manusia itu adalah makhluk sejenis yang tergila-gila dengan teguran atau panggilan.

Bayangkan, jika anda memiliki waktu tapi kalau pun tidak ya anda tidak perlu merasa bersalah, berapa banyak kata panggilan yang mampir ke diri kita. Tidak lama setelah kita dilahirkan di dunia ini, orang tua kita menyandangkan beberapa kata untuk memanggil kita. Orang menyebutnya dengan ‘nama’. Ada nama panjang atau nama lengkap, kita juga punya nama pendek, nama panggilan, bahkan ada beberapa orang yang punya nama samaran.

Konon, dalam nama yang diberikan kepada kita itu mengandung harapan, doa dan semacamnya. Tapi, selain itu, nama juga sebenarnya berfungsi praktis untuk menyapa kita. Bayangkan, sekali lagi jika anda ada waktu, kalau ada 10 anak dalam keluarga dan mereka semua tak bernama, bagaimana si orang tua akan memanggil mereka? Apa semua akan dipanggil ‘anak 1’ sampai ‘anak 10’? Bahkan ‘anak 1’ itu pun sudah menjadi nama juga. 

Selain itu, ada banyak kata lain yang dikenakan kepada kita sebagai panggilan atau kata sapaan itu tadi. Misalnya kita menjadi anak dari orang tua kita, ibu dari anak kita, bapak dari anak kita, kakak dari adik kita, adik dari kakak kita, suami dari istri kita, istri dari suami kita, paman dari keponakan kita, bibi dari keponakan kita, keponakan dari paman kita, keponakan dari bibi kita, cucu dari kakek nenek kita, kakek nenek dari cucu kita, cicit dari kakek nenek buyut kita, kakek nenek buyut dari cicit kita, sepupu dari sepupu kita, menantu dari mertua kita, mertua dari menantu kita, ipar dari ipar kita, besan dari besan kita, saudara dari saudara kita, kekasih dari pacar kita.

Masih kurang? Kita juga menjadi murid dari guru kita dan guru dari murid kita, mahasiswa dari dosen kita, dosen dari mahasiswa kita, teman dari teman kita, musuh dari musuh kita, bawahan dari atasan kita, atasan dari bawahan kita, rekan kerja dari rekan kerja kita, presiden dari rakyat kita, rakyat dari presiden kita, menteri bagi presiden kita, penjual dari pembeli, pembeli dari penjual, pembaca dari penulis, penulis dari pembaca. Ah saya yakin anda semua pasti punya banyak kata sapaan lain yang melintas di pikiran anda saat ini.

KAMAR MANDI BEBAS KUMAN

Menjadi orang tua tunggal memang sama sekali tidak gampang, meskipun itu hanya untuk sementara waktu. Bayangkan orang seperti saya ini. Untuk anda yang pernah dan sempat mengenal saya tentu tidak sulit melakukannya; tapi jika anda belum pernah bertemu saya dan ini adalah kali kita bertemu, saya senang bisa bertemu dengan anda.

Pada awalnya saya sangat rajin berbelanja, mulai dari susu anak, kebutuhan dapur, alat kebersihan, sampai kudapan. Setidaknya saya bisa berbelanja dua kali dalam satu bulan. Namun, kian waktu saya kian jarang berbelanja. Apakah ini pertanda bahwa saya teramat sibuk? Saya tidak tahu. Ada kalanya saya yang lupa untuk melakukannya, dan itu cukup sering terjadi. Selama persediaan masih ada tanpa syarat dan ketentuan berlaku, saya memilih untuk tidak berbelanja. Kalau pun saya sempat berbelanja, karena kebutuhan susu anak dan pembalut balita tidak dapat diabaikan, saya cenderung lupa hal lain apa yang perlu dibeli pula.

Suatu hari di minggu lalu, ketika sedang mandi saya menyadari bahwa sabun cair yang biasa saya pakai rupa-rupanya sudah habis. Daripada saya hanya membasahi badan dengan air hanya untuk menggugurkan kewajiban mandi pagi, saya memutuskan untuk menggunakan sampo sebagai pengganti sabun. Toh, mereka sama-sama dapat mengeluarkan busa. Memang ada pilihan lain seperti menggunakan pelembab rambut atau conditioner. Tapi itu tidak mengeluarkan busa, jadi saya pikir tidak sah mandi saya jika menggunakan conditioner. Sementara conditioner tersebut digunakan selepas kita bersampo, jadi sudah tepat pilihan saya untuk menggunakan sampo.

Saya pun bisa menggunakan sabun untuk mencuci piring sebagai alternatif pilihan lain. Ah, ide itu terkesan sangat berbahaya, bahan penyusun sabun cuci piring tersebut terlampau keras untuk kulit. Memang dia bisa menghilangkan lapisan lemak dengan menggunakannya sedikit saja. Akan tetapi justru itu adalah masalahnya, bayangkan jika lapisan lemak saya akhirnya terangkat oleh sabun pencuci piring yang seandainya saya gunakan. Saya khawatir akan menjadi kurus dan tidak dikenali lagi oleh anak saya sendiri. Lagipula, saya memilih tubuh saya berbau harum sampo daripada berbau jeruk limau.

Kebetulan juga saya harus berbelanja susu dan pembalut balita, saya memasukkan sabun mandi sebagai barang yang wajib saya beli dan saya miliki. Percuma saja bukan kalau saya membelinya tapi saya tidak bisa memilikinya? Pun kalau saya memilikinya tanpa membeli, itu merupakan tindak kriminal karena kejahatan terjadi bukan karena ada niat pelakunya tapi juga karena adanya kesempatan, maka waspadalah.

Dan sepulangnya berbelanja, saya merasa gembira karena kini saya memiliki sekantung sabun mandi cair yang saya peroleh dengan cara membeli. Kalau saja engkau melihat apa itu yang tertulis di kemasannya, bahwa saya mendapat bonus isi lebih banyak 20% dengan harga yang sama. Ah, saya mulai menghayati peran sebagai ibu rumah tangga yang selalu tertarik dengan iming-iming bonus atau harga yang lebih rendah. Tapi ternyata hal itu cukup menyenangkan juga.

Pun malasnya saya terlihat ketika saya hendak menggunakan sabun cair tersebut. Alih-alih saya menuang isi kantung tersebut ke dalam botol kosong yang memang peruntukannya adalah wadah sabun mandi, saya hanya membuat sayatan kecil pada kantung tersebut hanya sebagai cara mengeluarkan isi kantung tersebut. Saya tidak mengeluarkan isi sisanya dan membiarkannya tertampung dalam kantung tadi. Setelah saya menggunakan secukupnya (ingat sesuatu yang berlebihan itu tidak baik! kata ustad kampung sebelah), saya kemudian menaruh kantung sabun mandi tersebut di lantai pojokkan kamar mandi. Dan mandilah itu si saya.

Kemudian daripada itu, saya pergi keluar rumah untuk satu keperluan. Tentu saya sudah mengenakan baju dan celana sebagaimana mestinya. Dan saya juga telah berbilas dan menyeka tubuh dengan handuk tentu saja pula. Apa perlu saya beritahukan kepada anda kemana saya pergi? Apa keperluan saya? Ah, itu sama sekali tidak penting untuk saya ceritakan. Bukankah manusia itu berkehendak bebas? Jadi terserah kepada saya kemana saya mau pergi. Lalu, bukankah kita memiliki hak asasi untuk bisa pergi bebas tanpa dikuntit? Ya, mungkin anda memang punya hak untuk menguntit saya, tapi saya pikir anda cukup bijaksana untuk tidak melakukannya karena hal itu sudah terjadi di masa lampau.

Dan waktu pun berlalu sedemikian sehingga saya telah kembali ke rumah. Saya merasa sebuah mandi akan menyegarkan tubuh. Jadilah saya memutuskan secara sukarela dan tanpa paksaan sedikit pun untuk mandi. Namun, lihatlah itu ketika saya membuka pintu kamar mandi. Terdapat genangan cairan putih kental membasahi lantai kamar mandi. Cairan apakah itu? Apakah ada orang yang menggunakan kamar mandi ini senyampang saya tidak di rumah? Kemudian mahfumlah saya ketika melihat kantung sabun mandi cair itu tergolek lemah tak berdaya di dekatnya. Ternyata dia tidak sanggup menanggung beban seberat itu, lalu ia menumpahkan sebagian daripada isinya ke lantai.

Demi menyelamatkan isi bonus yang 20 persen tadi, saya pun mengambil sendok dan sebuah gelas plastik yang tak terpakai. Terpaksalah saya menunda mandi hanya untuk menyendoki cairan itu sebanyak yang saya mampu. Dapatlah saya katakan kalau saya hanya kehilangan 10 persen dari bonus itu setelah saya bosan menyendokinya. Lalu saya menyeka lantai kamar mandi dengan sisa cairan yang tak dapat atau tak sudi saya ambil.

Seperti kata pepatah, tiada artinya menangisi sabun yang tumpah. Saya beruntung masih dapat menyelamatkan sebagian. Dan tidak ada yang lebih menyenangkan daripada memiliki lantai kamar mandi bebas kuman. Saya yakin jika sedikit cairan yang dibasuh ke tubuh dapat membunuh kuman yang menempel di tubuh saya seperti tertulis pada kemasannya, maka cairan sebanyak itu semestinya dapat mengeliminasi kuman yang berserak di lantai kamar mandi.

Jangan Main Main Dengan Pikiranmu

BAYANGKAN..... jika anda berkumis dan berjanggut lebat. Lalu kebetulan memakai celana panjang anda yang sedikit kekecilan sehingga tidak menutupi mata kaki anda. Tentu saja saya tujukan ini pada anda yang berkelamin laki-laki. Bukan saya ingin melakukan diskriminasi dengan bermaksud mengatakan bahwa perempuan tidak boleh memakai celana semata kaki. Atau bayangkan jika anda adalah seorang perempuan berjilbab. Atau mungkin anda memiliki nama islami yang menurut orang tua anda, itu adalah sebuah doa, sebuah harapan, atau sekadar terdengar sangat eksotis sekitar tiga puluh tahun yang lalu. 

BAYANGKAN..... jika saat ini anda harus berurusan dengan kedutaan salah satu negara yang dianggap adikuasa meskipun saya sebenarnya tidak tahu apa arti adikuasa itu dan mengapa negara tersebut disebut negara adikuasa. Bayangkan anda melakukan itu karena anda berniat untuk mengunjungi negara tersebut. Bayangkan betapa sulitnya mendapatkan ijin hanya untuk bisa memasuki negara tersebut. Apakah anda akan diperlakukan secara adil? Apakah anda tidak akan dipandang secara subyektif? Apakah betul mereka akan menghargai anda sebagaimana tercantum dalam Piagam PBB tentang Hak Asasi Manusia? Saya tidak tahu.....

BAYANGKAN..... pula jika anda sebenarnya telah tinggal di negara tadi selama beberapa tahun dan anda tetap mempertahankan diri untuk berperawakan Asia tanpa melakukan upaya untuk melakukan operasi kosmetologis. Atau bagi anda yang perempuan, anda tetap mengenakan jilbab anda karena bagi anda itu adalah bagian dari hidup anda yang tidak dapat dipisahkan, dan bukan hanya sebatas masalah akidah agama. Dapatkah anda bayangkan bagaimana penduduk setempat melihat dan menilai anda? Seorang teroriskah? Seorang fundamentaliskah? Seorang jihadiskah? Seorang ekstremiskah? Seorang Radikaliskah? Saya tidak tahu.....

BAYANGKAN..... jika anda adalah seorang perempuan yang kebetulan sedang berada di tepi jalan di tengah malam menunggu kendaraan angkutan umum yang akan membawa anda pulang. Lalu kebetulan pula, angkutan umum yang biasa mengangkut anda sulit sekali ditemui malam ini. Lalu kebetulan pula anda adalah seorang yang berparas cantik dengan dandanan yang belum memudar walaupun setelah anda beraktivitas seharian. Bisa anda bayangkan bagaimana orang menilai anda? Perempuan nakalkah? Perempuan jalangkah? Perempuan berbayarkah? Saya tidak tahu.....

BAYANGKAN..... jika anda, entah anda perempuan atau lelaki, kerap terlihat bersama seseorang yang berbeda jenis kelamin dan bukan pasangan anda yang resmi. Lalu anda pun terlihat begitu akrab sekali dengannya. Saya tidak mempedulikan hubungan macam apa yang terjadi di antara anda berdua, tentunya tetap dalam bayangan anda. Dapatkah anda pun membayangkan bagaimana orang lain akan menilai anda   Akan dianggap tak bermoralkah? Akan dianggap tak setiakah? Akan dianggap terlalu dekatkah? atau akan dianggap tak beretikakah? Saya tidak tahu.....

BAYANGKAN..... pula orang-orang yang melihat keberadaan dan kedekatan anda dengan seorang berbeda kelamin tadi. Orang-orang yang merasa telah mengenal anda dengan baik dan anda pun merasa telah mengenalnya dengan cukup dalam. Orang-orang yang hampir sepanjang hari menghabiskan hidup mereka berada dalam perimeter jangkauan anda. Bagaimana mereka akan menilai hubungan anda itu?  Apakah anda akan dianggap berpacarankah? Akan dianggap berselingkuhkah? Berteman tapi mesrakah? Saya tidak tahu.....

BAYANGKAN..... jika anda sedang berkendara lalu secara sekonyong-konyong kendaraan anda mengalami kemogokan. Lalu pada saat yang tidak lama berselang, ada beberapa orang laki-laki bertampang seram, bertubuh besar dan tegap, mungkin juga dengan tato yang terserak di sekujur tubuh mereka. Apakah anda akan merasa takutkah? Apakah anda akan mengunci pintu kendaraan anda secepat mungkinkah? Atau anda akan menutup jendela mobil anda serapat mungkinkah? Saya tidak tahu.....
 
BAYANGKAN..... jika ada seseorang yang berbuat baik kepada anda. Dan anda tahu itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Terlebih lagi jika anda adalah seorang perempuan dan orang itu berjenis laki-laki. Akankah anda menerima kebaikannya begitu saja? Akankah anda menduga bahwa orang tersebut memiliki maksud yang terselubung? Akankah anda menduga bahwa orang tersebut mengharapkan sesuatu dari anda sebagai imbalan? Akankan anda sebagai seorang perempuan akan menduga bahwa si lelaki tersebut jatuh cinta kepada anda? Saya tidak tahu.....
 
BAYANGKAN..... anda kerap melihat seorang lelaki lajang mengantar dan menjemput seorang perempuan yang juga masih lajang. Apakah anda akan segera menduga bahwa mereka berpacaran? Apakah anda menduga kalau si jejaka sedang melakukan pendekatan kepada si perempuan? Apakah anda juga akan menduga kalau si perempuan akan serta merta juga menyukai si lelaki? Saya tidak tahu.....
 
BAYANGKAN..... jika ternyata si perempuan tidak menaruh hati pada si lelaki. Akan tetapi, dia tidak menolak untuk diantarkan pulang, dijemput, dan diantarkan ke macam-macam tempat yang indah secara rutin. Akankah anda menilainya sebagai seorang perempuan materialistis? Akankah anda menilainya sebagai seorang perempuan yang mengeksploitasi lelaki karena rasa cinta yang dimiliki si lelaki? Saya tidak tahu..... 
 
BAYANGKAN..... jika anda bertemu seseorang seperti saya. Seseorang yang ditinggal isteri untuk waktu yang cukup lama. Seseorang yang setiap malam hanya bergelung di tempat tidur dengan anak batitanya, berdua saja. Apakah yang ada dalam bayangan anda adalah seorang yang haus akan belaian wanita? Apakah yang ada dalam bayangan anda adalah seseorang yang sangat kesepian? Apakah yang ada dalam bayangan anda adalah seekor binatang yang gairah seksualnya meluap-luap karena tidak tersalurkan? Saya tidak tahu.....  
 
BAYANGKAN..... jika anda tidak membaca tulisan ini pada kenyataannya. Apakah anda menyadari pemikiran-pemikiran tadi? Apakah anda tetap merasa anda yang paling benar? Apakah anda tetap menganggap lalu segala yang terjadi? Apakah anda akan tetap tidak mau peduli dengan apa yang sedang bermain di pikiran anda? Apakah anda bahkan membaca tulisan saya ini dengan sebenar-benarnya? Saya tidak tahu.....

SUDAHLAH

Sudahlah jangan kau ucapkan
Nama Tuhanmu secara sia-sia
Jika kau tidak tulus dari hati
Dan kau tetap berlaku durjana


Sudahlah jangan kau mengaku suci
Dan sibuk urus akhlak orang lain
Pikirkan saja kapan kau mati
Atau urusan dirimu yang lain


Sudahlah jangan merasa mangabdi
Dan meminta orang berlaku sama
Jika kau meminta orang mencium kaki
Sementara kau berdiri pongah jumawa


Sudahlah tak perlu kau ceritakan
Semua yang telah kau lakukan
Hanya untuk dibilang hebat
Dan menjadikanmu semakin kuat


Sudahlah aku lelah berkata-kata
Tentang apa yang telah kau lakukan
Jadi lebih baik kuhentikan saja
Biar tak seperti yang kau kerjakan

SEBUAH PAKET UNTUK ANAKKU



Hari itu anakku Qonita mendapat sebuah hadiah yang berwujud paket. Sebenarnya sih saya yang mendapat itu paket. Kan itu paket memang dikirimkan ke saya. Lagipula paket itu di kirimkan ke kantor saya, tempat saya bekerja. Anak saya sih belum kerja. Sekolah pun dia baru akan mulainya beberapa tahun lagi. Tapi ya sudahlah tak perlu kita bahas banyak-banyak. 


Paket itu di kirim secara jauh, dari negara Turki. Ah itu sudah pasti dikirim oleh Jeng Nurdan dan Kakang Kadir. Tadinya saya sudah hampir berbangga karena saya menerima sebuah paket untuk diri saya, ternyata itu untuk anak saya. Ternyata mereka lebih peduli dengan anak saya. Yah wajarlah, karena memang anak saya lebih lucu, imut, menggemaskan. Sementara saya hanya lucu dan menggemaskan saja.


Untuk siapa pun itu, saya tetap bangga karena saya mendapat sebuah paket dari negara yang jauh. Dan dari orang-orang yang bahkan tidak bertautan darah dengan saya. Orang-orang yang baru mengenal saya dalam kurun waktu yang amat singkat. Jarang sekali orang yang beruntung mengalami hal semacam ini. Terlebih lagi di kantor saya. Atau mungkin saya saja yang tidak mengetahui bahwa sebenarnya banyak juga yang pernah mengalami kejadian seperti ini? Entahlah, saya tidak mau ambil pusing. Toh yang lain juga tidak mau ambil pusing dengan saya.  


Saya tidak ingin mengaitkan hal ini dengan gratifikasi karena sudah pasti ini tidak ada kaitannya dengan pelaksanaan tugas saya.  Bahkan, hal ini malah membuat saya berpikir. Apa yang membuat saya mengalami kejadian seperti ini. Apa yang membuat mereka terngiang-ngiang dengan anak saya sehingga mereka mengirimkan paket sebagai hadiah ulang tahun untuk anak saya.


Saya sempat berpikir, ini memang rejeki anak saya. Dia memang anak yang sangat beruntung dan membawa keberuntungan. Saya jadi teringat proses kelahirannya dua tahun lalu. Pada saat itu, dia harua dilahirkan melalui sebuah proses operasi. Dan pada saat yang sama tersebut, saya baru saja merintis karir di kantor ini. Tanpa tabungan yang memadai, kenapa dia harus dilahirkan melalui proses yang berbiaya mahal?


Tapi memang Tuhan Maha Pemurah dan Penyayang. Entah bagaimana, ibunya dirujuk ke sebuah rumah sakit yang bahkan banyak orang tidak tahu bahwa rumah sakit itu ada. Walhasil, operasi tersebut hanya membutuhkan setengah dari biaya yang harus dikeluarkan di rumah sakit besar. Toh, dengan biaya rendah tersebut, pelayanan dan perawatan yang diberikan sudah memenuhi standar. Yang ditiadakan hanya faktor kemewahan dan sedikit kenyamanan lebih. 


Tapi kita bicara soal rumah sakit di sini. Rumah sakit memang sudah semestinya tidak terlalu mengumbar kemewahan. Cukuplah jika si pasien merasa nyaman dan tidak melulu memikirkan penyakitnya. Jika sebuah rumah sakit begitu mewah, saya malah khawatir pasiennya kehilangan niat untuk sembuh. Atau mungkin, jika pun rumah sakit itu mewah, pasien tidak akan mau berlama-lama karena jika mereka akan dibunuh perlahan dengan. biaya perobatan yang teramat mahal. 


Nah, kembalilah kita ke topik awal. Meskipun hanya membutuhkan biaya yang relatif rendah, angka nominal yang dibutuhkan pada waktu itu madih di luar jangkauan saya. Sempat pula saya merasa khawatir bagaimana saya dapat membayarnya. Untunglah orang tua saya masih berbaik hati meminjamkan saya sejumlah uang yang dibutuhkan. 


Kekhawatiran saya tidak hanya berhenti sampai di situ. Saya masih bingung bagaimana saya dapat melunasi pinjaman tersebut. Tapi sekali lagi Tuhan membukakan jalan. Secara tidak terduga, saya mendapat sejumlah besar uang yang dapat melunasi pinjaman tersebut. Masih ada sisa pula. Saya percaya bahwa ini adalah rejeki yang dibawa serta anak saya dengan kelahirannya.


Dengan mengingat peristiwa tersebut, saya selalu menganggap anak saya adalah seseorang yang rejekinya bagus. Begitu pula dengan masalah paket tadi, saya menganggap itu bagian dari rejeki yang dibawanya pula. Si pengirim bahkan baru bertemu anak saya satu kali dan itu pun dalam waktu satu hari saja. Namun nampaknya hal tersebut sudah cukup berkesan baginya. Sehingga dia tetap ingat dan tergerak untuk menghadiahi anak saya. 


Namun, istri saya sedikit tidak sependapat dengan hal tersebut. Menurutnya, selain karena faktor anak saya, hal itu juga tidak terlepas dari bagaimana saya berhubungan dengan si pengirim paket tersebut. Entahlah, kalau saya mengiyakan hal tersebut, saya khawatir akan menjadi sombong. Tapi kalau saya menyangkalnya pun saya akan terlihat lebih sombong lagi. Serba salah memang. 


Saya memang berhubungan baik dengan mereka. Dalam kunjungan kerja mereka ke negara ini, saya memang berusaha melayani mereka dengan baik. Jika bicara dalam konteks pekerjaan, saya merasa memang sudah seharusnya saya melakukannya karena saya membawa kredibilitas institusi dan juga negara. Selain itu juga, saya merasa berutang budi karena saya diperlakukan dengan sangat baik ketika saya mengunjungi negara mereka. 


Mereka pula yang pada awalnya menganggap saya sebagai saudara jauh mereka. Sehingga ketika mereka berada di Indonesia, saya pun menganggap diri saya sedang menjamu saudara jauh saya yang sudah lama tidak bertemu. Hal itu menurut saya lebih mulia daripada sekadar menganggap diri saya sedang menjalankan tugas menjamu tamu negara. Hal itu pula yang membuat saya tidak mengharapkan imbalan apapun dari pihak mana pun. 


Saya masih ingat walaupun secara samar bagaimana pada akhirnya kami menasbihkan diri sebagai sebuah keluarga besar. Kami semua bersaudara meskipun kami baru saja bertemu. Bukankah pada hakikatnya semua manusia memang bersaudara? Tanpa bermaksud menyombongkan diri, apakah karena ketulusan semacam itu yang akhirnya membuat saya merasa beruntung bisa mendapatkan perlakuan seistimewa ini? Bisa jadi, setidaknya itulah pendapat istri saya.


Memang tanpa disadari, banyak orang yang menyatakan dirinya melakukan segala sesuatu secara tulus. Namun jika benar mereka tulus, mengapa mereka menginginkan imbalan? Mengapa mereka membutuhkan pengakuan dari orang lain atas apa yAng sudah mereka kerjakan? Mengapa pula ada yang kecewa jika sudah melakukan sesuatu namun orang lain yang mendapatkan pujian atas kerjaan tersebut?


Tulus ternyata memang sebuah ide yang mudah diucapkan akan tetapi sulit dilaksanakan. Sulit bagi kita melupakan hal baik yang sudah kita lakukan. Bagi saya, mengingat apa yang sudah saya lakukan hanya boleh saya lakukan dengan diri saya sendiri. Hal itu tidak lain hanya sebagai forum introspeksi dan retrospeksi. Jika saya melakukan suatu hal yang buruk, maka saya harus melakukan evaluasi sehingga saya tidal akan mengulanginya lagi. Pun jika saya telah melakukan hal yang baik, maka saya harus dapat mengulanginya lagi. 


Bagi saya, ada suatu kenikmatan setelah saya melakukan perbuatan yang baik. Namun kenikmatan itu tidak akan dapat dimengerti oleh orang lain. Jadi untuk apa saya menceritakan kepada orang lain? Lalu jika saya menikmati hal tersebut, untuk apa pula saya mengharapkan pujian dari orang lain. Biar hanya saya, diri saya dan Tuhan saja yang tahu.

KARTU DEBIT

Hari Jumat itu saya libur. Bukan karena saya begitu malas sehingga meliburkan diri, tapi memang sudah tertulis dalam guratan kalender dengan tinta merah. 


Itulah saya dan anak saya berjalan-jalan bersama orang tua saya, adik saya dan suaminya. Tepatnya berkendara-kendara. Soalnya kami hanya duduk dalam mobil dan biar mobil itu saja yang melaju. Barulah kami tiba di sana, sebuah tempat istimewa, kami berjalan kaki memasuki 
sebuah rumah makan. Karena tidaklah mungkin kami membawa mobil hingga masuk kesana. 


Setelah kami mendapatkan sebuah meja panjang beserta beberapa kursi yang cukup untuk kami semua duduk satu orang satu kursi tanpa harus berebutan.


Itulah kami beberapa saat kemudian. Setelah memesan beberapa porsi makanan dan tidak lupa minuman, kami pun menunggu hidangan tersebut tersaji. Sambil menunggu, saya mengajak anak saya melihat akuarium besar yang ada di sana. 


Oh, ternyata di dalamnya ada beberapa ekor ikan hiu mini lengkap dengan badan dan kepalanya. Ini patut saya sampaikan sehingga anda tidak berpikir ikan tersebut hanya ekornya saja. Tanpa badan, tanpa kepala, dan tanpa tulang belakang. Selain ikan hiu, ada banyak lagi jenis binatang laut di sana. Ada ikan bawal bakar bumbu kecap, ada ikan gurame goreng kering, cumi goreng tepung pun ada selain kepiting asem manis dan udang saos padang. 


Semua nampak berjalan baik-baik saja dengan penuh kewajaran. Nanti dulu, apakah menunggu dalam waktu yang cukup lama itu juga termasuk wajar? Bolehlah demikian. Karena kami, khususnya saya berpendapat bahwa sebuah restoran padat pengunjung wajar membuat kami menunggu agak lama. 


Dan pada akhirnya pun meja di hadapan kami pun penuh dengan hidangan yang menggugah selera. Saya pun dengan bangga menyilakan mereka untuk melahap semua makanan yang ada. Tentu saya sudah mewanti-wanti mereka untuk menyisakan sebahagian untuk saya. Semoga anda tidak bertanya mengapa saya yang menyilakan mereka untuk makan, dengan rasa bangga pula. Karena jika ada seorang dari anda yang bertanya, maka saya harus menjelaskan kalau saya adalah satu-satunya dari keluarga saya yang sudah pernah makan di restoran itu. 


Maka pula saya harus memberitahu anda kalau sayalah yang mengajak mereka semua pergi ke sana. Maka pula saya yang akan membayar biaya makan saat itu. Maka pula akhirnya anda akan menilai saya sebagai orang yang sombong. Jadi, demi menghindarkan saya dari perbuatan riya yang tidak disukai orang lain termasuk anda, sebaiknya kita jangan mempermasalahkan hal tersebut.


Lihat itu kami semua makan dengan lahapnya. Mereka terlihat sangat menikmatinya seakan mereka baru kali itu makan di restauran tersebut. Tapi kenyataannya memang itulah kali pertama buat semua orang kecuali saya dan anak saya si Qonita. Kami sudah pernah ke tempat tersebut sebelumnya karena kami mampu, baik secara fisik dan secara finansial. 


Di sepertiga makan terakhir, saya baru ingat kalau saya tidak membawa uang tunai. Tapi tidak masalah, toh masih bisa menggunakan kartu debit untuk membayar. Biar pun saya baru saja kehilangan satu kartu debit saya, toh saya masih bisa menggunakan kartu debit bank yang lain. Meskipun itu adalah kartu debit milik istri saya yang sedang merantau ke Australia, toh itu adalah uang bersama. 


Sekonyong-konyong, saya merasa ada yang salah. Tersadarlah saya kemudian. Kartu debit istri saya memang bisa saya pakai untuk mengambil uang tunai karena saya sudah menghapal kodenya. Akan tetapi, jika ingin menggunakannya untuk keperluan membayar maka saya membutuhkan tanda tangan istri saya. 


Terpaksalah saya harus meminta pertolongan adik saya untuk membayar dulu acara makan-makan tersebut. Saya berjanji akan menggantinya kemudian. Saya jadi teringat tagline sebuah iklan "Don't leave home without it". Bagi saya, slogan tersebut akan berbunyi, "Don't leave home without it, especially without your wife's signature".     

KAUS KAKI

Membaca Koran, membuka facebook, mendengarkan musik digital melalui piranti telepon genggam, mengobrol dan bergosip, bertelepon. Apa kesamaan dari itu semua? Ya itulah yang dilakukan orang sembari menunggu bersama saya dalam ruangan ini.

Ruangan sama yang saya inapi untuk beberapa jam kira-kira setahun yang lalu. Ruangan berbentuk Aula yang lumayan besar untuk dimasuki sekitar seratusan orang lebih. Dan di situ, di ruangan itu pula semua kejadian berawal yang berujung pada kegagalan. Apakah saya sedih? Tidak. Tidak sedikit pun saya sedih. Saya memang kecewa, marah, galau, kusut, emosi, dan lain sebagainya. Tapi saya tidak sedih di ujung kontes itu. Dan sekali lagi, ruangan itu berhasil menciptakan tekanan batin yang sama dengan setahun lalu. Napas menjadi agak sesak, tekanan darah meningkat drastis, seluruh syaraf terasa menegang. Untung saja nafsu tidak ikut berbicara.

Di ruang itu, ada sejuta harapan terkembang. Masih ada optimisme terukir di wajah orang-orang yang sebagian sudah berdandan rapi dan cantik, meskipun ada juga sebagian yang masih bertampang kusut masai karena bersesakan di perjalanan atau bahkan (mungkin) baru bangun tidur dan tidak sempat mandi. Tentu saja, ini baru langkah awal. Seiring dengan perjalanan waktu, optimisme itu kian memudar. Kalau pun gagal atau berhasil, kita toh tidak akan berada di ruangan itu lagi.

Oh, lihat itu. Ada beberapa orang yang saya kenal dan mengenal saya. Walau hanya segelintir dan lebih banyak orang yang saya tidak kenal sama sekali. Ada yang saya kenal waktu masih kuliah dulu. Dia adik kelas saya dan memang sedari dulu saya tidak begitu akrab dengannya. Kami berbeda aliran. Sementara saya menganut aliran Hedonis Aristokratik, dia tergolong Religius Akademistik. Ya, saya hanya bertegur sapa seadanya dan kami pun kembali ke alam masing-masing.

Dan wanita itu, yang di sana itu, kami hanya berteman lewat jaringan facebook. Saya tidak mengenalnya secara personal. Ternyata facebook itu memang sangat artifisial dan tidak mencerminkan sedikit pun tentang dunia nyata. Jumlah teman di facebook belum tentu akurat dengan data pada kenyataan di dunia ini. Bisa jadi lebih banyak, bisa jadi lebih sedikit. Dengan sedikit keisengan, saya yakin seseorang dapat memiliki banyak sekali teman di jaringan sosial itu.

Bagaimana dengan wanita berbaju hitam itu? Nah, kalau yang satu ini memang teman saya. Kami sering berhubungan secara maya. Setidaknya saya mengenalnya jauh lebih baik daripada seantero orang di ruangan kotak ini. Seorang yang sangat menyenangkan untuk diajak berbicara, seorang yang tetap dalam pencarian dalam hidup, seseorang yang mungkin anda kenal dan mungkin juga tidak.

Sementara itulah saya, yang sedang duduk lesehan di lantai berkarpet sambil memainkan perangkat komunikasi elektronik saya. Saya yang sedang menunggu dengan harap-harap cemas kapan nama saya disebut oleh seorang wanita manis di ujung yang berlawanan. Oh, kalau anda pikir wanita itu menyebut nama saya karena mengenal saya, maka anda adalah salah. Dia memang bertugas menyebut nama orang-orang dalam ruangan ini satu per satu pada waktunya. Mungkin dia sedang menghapal nama dan wajah kami tujuannya.

Sementara juga itulah saya, yang tadi pagi tergopoh-gopoh bangun karena tidak ingin terlambat ke ruangan ini. Saya yang tidak biasa lagi bangun sepagi tersebut, harus mengumpulkan segenap niat hanya untuk bangun dan mandi. Saya yang karena terburu-buru pergi sehingga lupa meminjam sepatu bagus pada orang di rumah karena semua sepatu saya yang bagus dan agak bagus tertinggal di kantor. Saya yang akhirnya menggunakan sepatu capung bekas diklat prajabatan dengan ternoda lumpur di sana sini.

Lalu siapa laki-laki yang menghampiri saya dan tidak lama kemudian duduk di samping tidak jauh dari saya itu? Laki-laki yang memulai percakapan dengan cara yang unik dan tidak lazim. Percakapan itu dibukanya dengan menanyakan "kemana kaus kakinya?". Lalu saya jawab, "apakah itu suatu keharusan?" Dan dia melanjutkan dengan bertanya "Di kantor gak pake kaus kaki?" Karena saya sedang enggan berbicara, saya jawab singkat "tidak!" Dan terakhir dia menimpali perkataan saya dengan komentar "Susah memang kalo ga punya kesadaran!"

Pak, Om, Mas, Kak, Bang, Bung, apalah...siapakah sebenarnya anda? Apakah anda berhak mengatur apakah saya harus berkaus kaki atau tidak? Apakah benda bernama kaus kaki itu adalah sebuah benda keramat yang saya harus kenakan? Apakah saya berdosa kalau saya tidak memakai kaus kaki dan ketika saya mati, saya akan dikirim ke neraka yang penuh dengan kaus kaki? Sungguh Pak, Om, Mas, Kak, Bang, Bung, apalah... saya memiliki kesadaran. Saya sadar kalau saya tidak berkaus kaki. Tapi mohon maaf, saya tidak punya kaus kaki, setidaknya saat itu.

SI ANOM

Ya begitulah si Anom itu. Lucu, unik, baik hati walau kadang menjijikan. Tapi apalah artinya satu sifat jelek dibanding timbunan sifat baik lainnya. Jadi, apakah anda mengenal si Anom yang saya ceritakan? Lho, bagaimana anda bisa tahu? Bukannya saya belum cerita?

Mungkin saja anda sudah kenal dengannya. Tapi saya bercerita tentang si Anom yang adik ipar saya dan bukan adik ipar anda tentunya. Kalau pun dia orang yang sama dengan teman anda atau sodara anda, ya biar aja. Biar tau rasa dia. Biar aja dia sadar kalau dunia ini sempit.

Si Anom yang saya ceritakan ini adalah orang yang tiada peka akan nada, bagaimana pula dengan lirik? Sudah jelas dia tidak hapal dengan sukses. Yah begitulah si Anom yang gemar menyumbangkan lagu. Semua lagu pasti akan menjadi sumbang di mulutnya. Coba saja anda minta dia menyanyikan lagu anak-anak yang riang gembira. Anda akan mendengar lagu paling memilukan dan menyayat gendang telinga.

Ya si Anom itu pula yang tidak pernah belajar bagaimana kentut bergaya aristokratik. Sangat dimungkinkan dia adalah tokek dalam kehidupan sebelumnya, dan kini dia menjelma menjadi sesosok TOKENTUT. Itu adalah semacam siluman tokek yang bersuara lewat kentutnya. Prett...kaya...prett, miskin...prett, kaya...begitulah seterusnya.

Anda boleh memujanya untuk mendapatkan kekayaan secara mudah dan instan. Syaratnya gampang, tanpa bunga, dan uang muka rendah. Cukup anda sediakan segelas kopi hitam dan beberapa batang rokok. Taruh semua itu di kamar mandi, kemudian buka seluruh pakaian anda. Baca mantra yang diwajibkan sebanyak 5.976.832 kali. Ingat, itu tidak boleh lebih apalagi kurang. Anda juga dilarang menggunakan alat pengingat atau penghitung seperti sempoa, kalkulator atau sebangsanya. Selain itu, anda juga dilarang mencontek. Jika anda telah selesai, anda dipersilakan meninggalkan ruangan. Selamat bekerja. Lho koq seperti sedang mengerjakan SNMPTN?

Begitulah si Anom yang matanya sipit sebelah karena keseringan ngintip dari belakang lensa kamera. Si Anom yang sayang anak kecil, sayang ibu, sayang ayah, sayang adik kakak, pokoknya semua lah; termasuk anda, saya, dan mereka.

Saya tidak bermaksud memujinya karena dia sering membayari saya makan. Atau karena dia sering membelikan saya barang ini dan itu. Tidak sama sekali tidak. Itu fitnah sodara-sodara! Itu fitnah yang sangat keji! Saya melakukannya hanya ingin menggambarkan bagaimana si Anom itu adanya secara penuh keikhlasan, sungguh. Percayalah pada saya.

Jadi, apakah anda ada mengenalnya? Apakah Anom itu pula yang anda kenal dalam kehidupan anda sekalian? Jikalau anda ada bertemu dengannya, tolong sampaikan salam dari saya. Dia pastinya telah mengenal saya. Tolong katakan padanya untuk mengembalikan tali pocong saya yang dicurinya dari makam saya lima puluh tahun yang lalu.

Bondowoso: Secuplik Kisah

Akhir taun. Itu adalah masa yang sangat sibuk bagi instansi pemerintah. Tiba-tiba saja semua teringat akan rencana kerja awal tahun yang sudah disusun berbulan-bulan sebelumnya. Semua kembali melihat agenda kerja mana yang belum dikerjakan. Apalagi itu menyangkut jumlah anggaran tahun berikutnya. Semua panik, semua serba dikebut kalang kabut sampe terkentut-kentut. Pun begitu dengan tempat saya bekerja. Secara sekonyong-konyong, bermunculanlah pekerjaan yang selama ini menguap tak tersentuh.


Yang paling gencar dilakukan pada bulan ini adalah agenda sosialisasi. Itu bukan program untuk menjadikan negara ini menjadi negara yang sosialis. Itu adalah upaya menyebarkan informasi kepada khalayak umum tentang apa yang dikerjakan kantor tempat saya bekerja. Apakah hal itu perlu dilakukan? Ya tentu lah ya... kalau tidak kami harus lebih keras lagi mencari hal lain yang bisa dikerjakan. Dalam satu bulan ini saja tidak kurang dari 10 agenda sosialisasi harus dilaksanakan. Bukan hanya di Jakarta Raya, tapi juga ke daerah yang tidak dapat dijangkau dengan berjalan kaki satu minggu.


Nah, ternyata saya mendapat jatah untuk pergi menyambangi kota Bondowoso. Saya pikir itu masih di bagian Jawa Barat karena saya pernah mendengar hikayat Bandung Bondowoso. Ternyata saya salah, memang Bandung Bondowoso itu adalah legenda dan bukan rute bis angkutan. Tapi saya akhirnya mengetahui kalau Bondowoso itu berada di Jawa Timur. Menurut informasi dari sang peta, teman Dora Si Petualang, Bondowoso itu terletak sekitar satu telapak tangan dari Surabaya. Ah, tidak terlalu jauh bukan? Entah tahun berapa peta itu dibuat, atau mungkin saya yang salah mengira, ternyata Bondowoso itu masih teramat jauh dari Surabaya. Sudahlah, bagaimana pun itu adalah perintah, dan saya harus melaksanakannya. Anda pun tentu tidak bersedia menggantikan saya untuk pergi ke sana bukan? Buktinya anda tidak mengirim SMS ke saya atau menelpon saya sebelum saya berangkat. Teman macam apa anda ini?


Awalnya saya ingin menolak karena saya tidak tega meninggalkan anak saya satu-satunya (hingga saat ini) tanpa kehadiran kedua orang tuanya. Akan tetapi, setelah menyadari bahwa tidak ada orang lain yang tersedia maka saya memberanikan diri untuk menerima tantangan tersebut. Saya juga berpikir lebih baik saya menerimanya, cepat atau lambat saya harus mengalaminya. Lebih baik lah Bondowoso itu, saya khawatir jika pada agenda berikutnya saya akan dikirim untuk melakukan sosialisasi di Kutub Utara. Lagipula, saya belum pernah mengunjungi kota tersebut. Pengalaman baru memang sulit untuk ditolak.


Dan saat yang berbahagia itu pun tibalah. Saya mulai mengurus segala dokumen yang diperlukan untuk keberangkatan saya. Singkatnya dapat disebut dokumen untuk meminta uang. Saya pun telah berkasak-kusuk untuk bisa mendapatkan kamar hotel di kota itu tadi, baik kamar untuk saya dan untuk narasumber. Saya boleh merasa beruntung karena narasumber saya sama dengan teman saya yang bertugas ke Njember (begitulah konon orang membacanya). Jadi setidaknya saya memiliki latar belakang informasi yang cukup. Segalanya akhirnya dapat disiapkan dengan baik. Dan saya pun siap untuk berangkat.


Pak Narasumber meminta saya untuk tiba pukul 9 di rumahnya di Surabaya yang panas di mana debu-debu banyak berterbangan dihempas oleh bis kota yang sudah miring ke kiri oleh sesaknya para penumpang yang bergelantungan. Haduh....koq saya jadi menyanyi? Maafkan! Jadi pun saya memilih penerbangan pertama pada pukul 6 pagi. Dan itu berarti saya harus berangkat dari rumah pada pukul 4 pagi. Ini adalah tantangan pertama. Adalah satu masalah buat saya untuk bagun pagi buta seperti itu. Saya tidak mau menyakiti si ayam jago karena mendahului bangun sebelum dia bahkan berniat untuk berkokok. Selain itu saya belum pernah bepergian menggunakan burung besi sendiri saja. Bagaimana kalau tiba-tiba saya tersasar dan berakhir di bagasi atau terdampar di pesawat yang salah? Masih banyak lagi ketakutan dan kekhawatiran saya.


Semalam sebelum berangkat, saya sudah menyiapkan segalanya. Dan itu selesai pada pukul 12 malam. Mungkin karena menyadari akan ditinggal ayahnya bepergian, si kecil tidak tidur dengan tenang malam itu. Dia terus terbangun dan menyebut ayah....ayah...begitu berulang-ulang sampai dia hapal di luar kepala. Pada pukul 2 pagi, ketika anak saya tercinta sudah terlelap, tiba-tiba keadaan menjadi gelap gulana. Saya pikir itu karena kotoran mata yang sedemikian besar hingga menghalangi pandangan. Saya coba mengucek mata tidak dengan deterjen tentunya. Ternyata tidak berubah. Apakah saya buta? Saya menjadi buta! Ooooh...tidaaaak! Saya mendengar tangisan anak saya, tapi saya tidak dapat melihatnya. Ini buruk, sangat sangat buruk. Oh, itu suara mertua saya. Dimana beliau berada? Saya dengar dia berkata, “Pake acara mati lampu lagi....” Hmm....baiklah....saya gak jadi buta....itu cuma mati lampu saja.


Setelah beberapa saat saya memutuskan tidak peduli dan kembali tidur. Itu pun setelah anak saya terlelap juga. Lihat itu secara samar jam di dinding sudah menunjuk jam 3 tepat. Sudah semestinya saya bangun, tapi karena masih enak, saya tertidur lagi. Saya tergopoh-gopoh bangun pukul 3.30 dan bergegas mandi. Pada pukul 4 pagi sudah siaplah saya berangkat. Satu hal yang tidak pernah terjadi selama saya bekerja. Ternyata hanya sebuah Garuda Indonesia yang bisa memaksa si aku untuk bangun pagi buta. Dan pada pukul 6 pagi itu juga, saya sudah duduk di kursi pada sisi jendela pesawat.


Sejauh ini tidak ada masalah yang terjadi. Namun kecemasan itu tidak juga bisa hilang. Tugas masih jauh dari usai. Saya mencoba menikmati pemandangan di luar jendela untuk menenangkan saya dari kecemasan dan dari kondisi kurang tidur. Pemandangan yang sangat indah; tidak ada macet, tidak ada pedagang asongan, dan pengemis. Keindahan itu semakin bertambah ketika segelas kopi dan dua gumpal roti tersaji di hadapan saya. Itu adalah hadiah dari Ibu-Ibu Pramugari secara cuma-cuma. Mungkin mereka ingin menyuap saya untuk menggunakan maskapai penerbangan itu lagi, tapi apa peduli saya.


Dasar manusia tidak pernah puas, saya pun tergiur dengan jus buah yang ternyata boleh diminta tanpa paksaan. Segelas jus apel akan membuat awal hari ini makin sempurna pikir saya. Saya pun memutuskan untuk memintanya kepada Ibu-Ibu Pramugari tadi. “Pake es, pak? Jusnya?” saya hanya mengatakan “He eh”. Pada saat itu saya ingin mengatakan bahwa yang namanya Jus Apel ya harus pake es. Kan saya minta Jus Apel bukan Ju Apel, gimana seh?!?! Tapi saya simpan saja kata-kata itu dalam hati. Saya takut diminta turun sebelum saya sampai tujuan. Bukan soal ketinggian beribu-ribu kaki yang membuat saya takut. Saya takut karena tidak ada angkot yang bisa berhenti seenaknya di atas sana.


Dan selamatlah saya sampai Surabaya dengan diamnya saya itu. Seorang supir dari travel yang sudah dipesan sebelumnya, telah menunggu saya di pintu keluar. Menyenangkan juga melihat nama saya tertulis di secarik kertas dan dilihat orang banyak. Karena saya tidak mau seluruh orang tahu kalau manusia bernama Yogi itu saya, saya hampiri dia diam-diam dan saya katakan “Pak, itu saya loh”. Karena dia orangnya mudah percaya, tidak lama kemudian kami sudah dalam mobil menuju rumah Pak Narasumber.


Setelah menunggu beberapa saat di rumah Pak Narasumber, kami pun mulai menuju Bondowoso. Pun setelah melalui gunung dan laut, panas dan hujan, kami tiba 4 jam kemudian di sebuah hotel di Bondowoso. Enam jam kemudian, semua kini sepi. Pak Narasumber dan istrinya sedang beristirahat di kamarnya. Saya sedang mengetik tulisan ini di kamar saya. Dan pak supir pun sedang mengorok dalam tidurnya.

LEAN ON ME


Dalam agama apapun dogma semacam ini pasti dikenal. Peran Tuhan dalam kehidupan manusia, apalagi manusia Indonesia, sangat signifikan. Begitu pula peranan Tuhan atau Allah dalam kehidupan gue. Meskipun gue sepenuhnya sadar dan tidak dibawah tekanan untuk mengatakan kalau ibadah saya masih ala kadarnya. Tetap saya percaya sama kekuatan besar yang tidak terlihat yang mengatur kehidupan manusia.

Ada berbagai teori tentang bagaimana peran Tuhan dalam kehidupan manusia. Ada yang bilang, manusia itu tidak ubahnya sebagai boneka tali yang dikendalikan Tuhan. Segala sesuatu yang dilakukan manusia itu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. dalam teori ini manusia tidak dapat melakukan selain apa yang telah diatur. Tapi ada juga yang mengatakan kalau manusia itu berkehendak bebas. Tuhan diposisikan sebagai juri yang melihat dari kejauhan. Ia adalah penilai akhir tentang apa yang dilakukan manusia. Jika manusia itu berbuat baik maka akan ada hadiah di kemudian hari; begitu juga jika manusia berbuat jahat maka akan ada sanksi yang menunggu. Saya memilih posisi di antara kedua teori tersebut. Buat saya, Tuhan telah menentukan garis akhir perjalanan kita, rejeki kita, umur kita dan jodoh kita. Tapi saya juga melihat hidup manusia seperti perjalanan sebuah cerita yang dirancang sendiri oleh kita sebagai manusia. Setiap pilihan yang kita buat, akan mengubah alur cerita. Setiap tindakan akan memberi nuansa lain dari cerita hidup kita. Tetap saja, kisah akhir sudah disiapkan oleh Tuhan.

Meskipun begitu, Tuhan tidak lepas tangan dan membiarkan manusia melaksanakan kehendaknya secara sebebas-bebasnya. Tuhan tetap memberi rambu-rambu secara tersamar. Itu tidak lain agar manusia tidak sepenuhnya menyerahkan diri pada nasib tanpa mau berusaha. Tuhan juga dapat melakukan intervensi dalam nasib manusia. Tentu saja jika kita memintanya melalui perantaraan doa.

Saya juga percaya dengan ajaran yang mengatakan bahwa Tuhan itu seperti prasangka kita. Jika kita berprasangka baik, maka Tuhan itu baik. Namun sebaliknya, jika kita berprasangka buruk, Tuhan itu buruk. Untuk saya, tidak ada alasan untuk menuduh Tuhan dengan segala yang buruk. Saya yakin Tuhan ingin mengajarkan atau menyadarkan kita melalui cobaan yang diberikan-Nya. Selalu ada sesuatu yang bisa dipelajari dari setiap kesedihan dan cobaan.

Saya baru saja mendapat berita kalau aplikasi beasiswa S-2 saya di Australia ditolak. Sementara itu, istri saya yang mengajukan aplikasi beasiswa yang sama, di universitas yang sama, dan dengan program studi yang sama berhasil lolos. Itu artinya dalam waktu dekat, istri saya akan terbang ke Australia menuntut ilmu seorang diri.

Di satu sisi, itu adalah berita baik bagi kami sekeluarga. Melanjutkan studi di luar negeri memang telah menjadi impian istri saya sejak lama. Saya tidak berniat menghalanginya karena saya adalah suami yang baik. Di sisi lain, ini juga menjadi berita buruk. Permasalahannya, bagaimana dengan anak kami yang bulan Maret mendatang baru akan berusia satu tahun? Haruskah istri saya membawanya serta karena istri saya merasa berat untuk berpisah dengan anak? Atau haruskah anak kami berada di Indonesia dengan kondisi jauh dari kasih sayang ibunya?

Setelah melihat dari berbagai sisi, di antaranya agar tidak mengganggu konsentrasi belajar istri saya, kami memutuskan bahwa anak kami tetap berada di Indonesia. Ini akan menjadi babak baru dalam kehidupan rumah tangga kami. Sebelumnya kami tidak pernah berpisah lebih dari satu bulan. Hal ini pastinya tidak akan mudah bagi saya, istri saya dan anak saya. Biar bagaimanapun, ini adalah takdir Yang Kuasa. inilah yang sudah digariskan untuk kami. Saya tetap merasa bahwa Tuhan ingin memperlihatkan sesuatu atau hanya ingin menguji kami, bukan karena suatu hal yang buruk.

Meskipun keberangkatan istri saya baru akan terjadi sekitar 3 bulan lagi, saya sudah melihat pelajaran yang ingin Tuhan sampaikan melalui kejadian ini. Saya menyadari sepenuhnya betapa lemahnya saya sebagai seorang laki-laki. Ternyata, sehebat apapun seorang laki-laki, dia tidak akan berhasil tanpa dukungan seorang wanita luar biasa. Begitu juga dengan istri saya, dia adalah seorang wanita super yang luar biasa.

Sejak saya membuka mata di pagi hari (itupun atas jasa istri saya yang membangunkan saya), istri saya sudah sangat berjasa. Dia yang menyiapkan baju dan perlengkapan kerja saya, dia membuatkan saya minuman hangat, membelikan sarapan karena dia tau kalau saya pasti lapar. Begitu juga dalam menjalani hari, dia selalu memanjakan saya dengan perhatiannya. Bahkan ketika kami kembali ke rumah dengan badan lelah, dia masih menyiapkan makan malam untuk saya. Jika saya sudah makan sebelumnya, dia selalu setia membuatkan saya secangkir minuman hangat agar badan saya kembali segar. Lalu dia duduk menemani saya menikmati minuman tersebut di meja makan kami yang mungil. Dia ceritakan perjalanan harinya dan dia rela mendengarkan seluruh ocehan saya. Saya paham, dia pasti sangat lelah pada saat itu. Kelelahan itu mungkin baru terlihat dari betapa nyenyaknya nya dia tidur.

Itu belum seberapa. Istri saya juga sudah menjadi manajer hidup saya. Dia yang mengatur dan mempersiapkan segala yang dibutuhkan dalam kegiatan saya sehari-hari. Dia selalu mengingatkan apa yang harus dibawa atau disiapkan. Saya bahkan tidak tau secara tepat lokasi dokumen-dokumen penting meskipun itu semua ada di rumah kami yang tidak seberapa luasnya. Dia menjadi orang pertama yang ceria jika saya mendapat berita baik. Dia juga orang pertama yang menenangkan saya dan mendengarkan saya jika saya menemui masalah.

Jadi, saya tidak habis pikir kalau ada suami yang tega menganiaya istrinya. Meski ada kelakuan istri yang tidak berkenan di hati suami, saya kira apa yang telah dilakukan si istri kepadanya jauh lebih agung dari kekurangannya tersebut. Apakah si suami juga sudah sempurna sehingga menuntut suatu kesempurnaan dari si istri?

Pengalaman ini membuat saya tersadar betapa bergantungnya saya kepada istri saya. Betapa saya yang dinilai orang lain sebagai sosok yang cuek dan urakan ini, ternyata tetap mengandalkan istri. Bagaimana dengan anda dan pasangan? Seberapa penting peranan pasangan anda dalam hidup anda? Apakah anda sudah memperlakukan pasangan anda selayaknya?

SUPERHERO

Lihat itu Superman
Bisa terbang sampai ke awan
Biarpun gak ada yang menandingi
Tetap saja dia tak punya istri

Lihat itu Spiderman
Bisa nempel secara sembarangan
Memang dia punya pasangan
Tapi gak pernah punya keturunan

Aku lebih suka begini saja
Biarpun punya banyak kekurangan
Selalu ditemani istri dan anak tercinta
Daripada hebat tapi sendirian

Lihat itu para Kura-Kura Ninja
Tinggalnya saja di dalam selokan
Badannya hijau mungkin lumutan
Bagaimana bisa mereka pacaran?

Tapi Batman yang lebih kasihan
Hanya keluar di malam hari
Tanpa istri dan keturunan
Kemana mana hanya robin yang menemani

Aku lebih suka begini saja
Biarpun punya banyak kekurangan
Selalu ditemani istri dan anak tercinta
Daripada hebat tapi sendirian

Ronda

Seperti lazimnya tahun-tahun sebelumnya, di lingkungan rumah saya yang adalah milik mertua saya dilakukan piket ronda setiap bulan Ramadhan. Saya tidak tahu alasannya mengapa ronda ini hanya diadakan setiap bulan puasa. Mungkin karena bulan ini lebih banyak pahala, atau mungkin diadakan karena para penjahat merasa akan diampuni dosanya pada bulan ini jadi lebih banyak lagi kegiatan itu mereka lakukan di bulan puasa. Yang pasti pak RW menyuruh pak RT dan pak RT menyuruh warganya termasuk saya ini.

Apapun itu alasannya, sebagai warga negara yang baik dan tidak macam-macam, saya merasa berkewajiban melaksanakan tugas ini sebaik-baiknya. Lagipula setiap warga negara wajib berperan serta dalam upaya bela negara. Saya takut kampung ini diklaim negara lain kalau saya tidak meronda.

Malam ini kembali jadwal saya melakukan piket ronda. Memang tidak ada kegiatan khusus selama menjalankan tugas itu selain berkeliling lingkungan satu kali dan selebihnya hanya duduk-duduk menunggu. Justru karena itu saya harus mempersiapkan bagaimana saya akan menyibukkan diri.

Saya bisa bermain game di handphone, atau mengerjakan tulis menulis di PDA saya. Kalau begitu baiklah, saya harus men-charge penuh baterai keduanya. Dengan begitu, mereka tidak akan kekurangan tenaga untuk bekerja menemani saya.

Ketika malam pun tiba, saya sudah siap untuk piket. Saya masukkan HP dan PDA ke saku celana. Kemudian saya keluar rumah. Dengan menikmati satu cup es krim yang saya beli tadi sore khusus untuk malam ini, perlahan saya membuka pagar lalu melangkah pergi.

Malam ini gerah sekali. Lihat itu mendung menggayut di langit. Ketika agak lebih sore tadi, bahkan mendung lebih tebal. Kenapa juga hujan tidak turun malam ini? Kalau malam ini hujan, pastinya tidak akan gerah seperti ini. Pastinya juga saya tidak perlu keluar rumah.

Hmm...alangkah sepinya malam ini. Kemana petugas yang lain? Apakah mereka lupa dengan tugasnya? Atau mungkin khusus malam ini ronda diliburkan? Biarlah, kalau nanti setelah saya berkeliling RT satu putaran tidak juga ada seorang lain pun, saya pulang lagi. Cukup satu putaran karena saya sudah mendapat suara mayoritas dari dalam diri saya.

Lihat itu saya memutuskan untuk duduk di sana, di ujung gang. Tempat yang kau janjikan, ingin jumpa denganku walau mencuri waktu. Lihat itu saya yang malas berkeliling dan mulai memainkan PDA. Kamu pasti tidak merasakan apa yang saya rasa. Karena saya bukan kamu, dan kamu bukan saya.

Oh, lihat itu ada 2 orang berjalan mendekat. Satu orang pencatat kehadiran piket dan satu orang entah siapa. Si pencatat kehadiran menyapa saya "Lho, sedang apa pak di luar malam-malam?" Ada apa ini? pikir saya. Saya mulai merasa ada yang salah. "Bukannya giliran saya malam ini?" jawab saya dengan ragu.

Si pencatat kehadiran mulai membuka bukunya untuk meyakinkan dirinya. Kami berdua sama-sama meragu. Namun, untunglah kami tidak merasa yang paling benar sehingga kami tidak berkelahi. "Pak Djatmiko (begitu ia memanggil saya) jadwalnya tanggal 6" jawabnya. "Lho memangnya sekarang tanggal berapa?" tanya saya basa-basi. "Sekarang baru tanggal 5, giliran bapak baru besok." katanya.

Begitulah saudara-saudari. Tanpa ngotot-ngototan, masalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Untung saja kegiatan ronda diadakan malam hari. Tidak nampaklah wajah saya yang menghitam karena malu tersebut.

ANAK BAWANG

Anakku lagi masuk angin
Badan basah keringatan.
Tapi tangan dan kakinya dingin
Rambutnya pun acak-acakan.

Anakku juga gak enak badan.
Aduh, sungguh kasian!
Guling kiri guling kanan,
Kerap terbangun berkali-kali

Anakku kini berbalur minyak dan bawang.
Kata neneknya semua itu supaya tenang.
Tapi alangkah sungguh kasian,
Sekarang baunya jadi gak karuan

Anakku perutnya kembung
Kentut melulu terus bersambung
Karena senang belajar jalan seharian
Sampai ngantuk pun dia tahan

Anakku kini berbalur minyak dan bawang
Kata neneknya itu cara supaya tenang.
Tapi alangkah sungguh kasian,
Sekarang baunya jadi gak karuan.

Anak cantikku kini bau bawang
Di tengah tidurnya kini tenteram.
Biar begitu aku tetap senang
Daripada dia bau soto atau kari ayam.

* Anakku bukan Mie Instan

BELUM MANDI

Hari itu saya sungguh sibuk sekali. Sungguh tumben karena biasanya saya justru berpura-pura sibuk agar supaya dianggap bekerja. Sedari pagi saya sibuk mencari cara bagaimana membuka mata dan menjaga agar mata ini tetap terbuka. Dan saya baru berhasil ketika jarum pendek jam sudah berada di angka 10. Apakah saya kesiangan? Tentu sajalah karena jam kerja saya kan seharusnya dimulai pukul 7.30 pagi. Tapi saya bersyukur karena saya bukan pahlawan. Saya sungguh tidak akan suka jika saya dianggap pahlawan kesiangan. Jadi biarlah saya tetap menjadi Yogi Kesiangan saja.

Well, itu tetap saja tidak dapat menjadi alasan bagi anda untuk mengatakan atau menilai saya sebagai seorang pemalas. Saya sebenarnya sudah bangun dari pukul 6.30 pagi. Karena saya ingin menikmati suasana pagi dengan membaca buku, saya merebahkan diri saya di atas kasur dan mulai membaca. Ah, pagi itu memang segar sekali. Jadi secara tidak sadar, saya kembali terlelap. Jadilah saya terbangun pada waktu yang saya sebutkan tadi. Sekira pun anda tetap menilai saya sebagai pemalas, biarlah... saya anggap itu sebagai pujian karena itu adalah memang sebuah pujian.

Siang itu ternyata saya bertemu dengan seorang ”dewa” fotografi bernama Ray Bachtiar. Bukan karena saya pula seorang ”dewa”, tapi karena saya memang lagi berkepentingan dengan beliau untuk menjadi juri lomba fotografi yang mana saya menjadi ketua panitianya. Sebelumnya kami berencana melaksanakan penjurian empat hari sesudah hari tersebut. Dengan begitu kami masih dapat menyiapkan segalanya dalam dua hari ke depan. Ternyata, beliau meminta penjurian dilaksanakan keesokan harinya. Wah itu berarti ada banyak kerjaan yang harus dikebut dalam semalaman.

Singkat cerita, saya terpaksa namun sukarela menginap di kantor untuk menyelesaikan tugas yang tersisa. Inilah, itulah, adalah pokoknya yang saya kerjakan. Dengan semua kerjaan itu, saya baru bisa merebahkan badan pada pukul 4 pagi. Nikmat sekali rasanya bisa tertidur setelah badan terasa sangat penat. Terlebih lagi, pendingin ruangan dinyalakan sejak pukul 1 malam. Dingin namun nikmat.

Ternyata pendingin ruangan tersebut berfungsi dengan baik dan menjadikan ruangan memang dingin sekali ketika aku membuka mata. Tapi bukan dingin itulah yang membuatku kembali ke dunia nyata, saya melihat orang-orang berlalu lalang karena itu memang sudah waktunya bekerja. Karena saya tidur di sebuah ruangan terbuka yang dilalui orang, saya merasa seperti seorang gelandangan kiri ketimbang gelandang bertahan...maksudnya bertahan sebagai seorang gelandang. Oh, pendingin ruangan, maaf kalau saya hampir lupa membicarakan dikau. Si pendingin itu memang berefek juga pada tubuh saya. Gara-gara dia aku jadi malas untuk mandi. Rasanya dingin sekali dan susah sekali menggerakkan badan menuju kamar mandi.

Saya baru sadar kenapa orang tua saya meminta saya untuk tidak menunda pekerjaan apa pun. Karena rasa malas itu akan semakin berkembang dan pada akhirnya tidak akan jadi dikerjakan. Dan begitu pun dengan diriku pagi itu. Karena keengganan awal untuk mandi, pas ketika saya berniat untuk mandi, sudah ada tugas lain yang menanti. Karena tugas tersebut lebih penting untuk dikerjakan. Maka keinginan untuk mandi perlahan mundur ke belakang tertutup sam urgensi tugas tadi.

Ketika tugas itu selesai, para juri sudah berdatangan dan terpaksalah lagi saya menunda niat saya yang mulia lagi. Pada akhirnya saya menjalani aktifitas saya hari itu tanpa mandi. Tetapi entah mengapa tidak ada yang tahu dan tidak menyadari. Well, secara positif itu berarti saya tidak mengalami masalah bau badan. Jika saya bau badan, maka sepertinya kenyataan bahwa saya belum mandi akan terbongkar dengan mudahnya. Akan tetapi, itu juga bisa berarti kalo saya setiap hari memang lusuh. Jadi tidak masalah apakah saya sudah mandi atau belum, tampang saya memang akan tetap seperti itu saja.

Tapi saya perlu merasa kasian kepada para pesohor di bidang fotografi karena mereka berhubungan dengan seorang saya yang belum mandi. Jika mereka mengetahui bahwa saya belum mandi, apakah mereka sudi bekerjasama dengan saya? Apakah mereka akan memutuskan untuk menunda penjurian hingga saya akhirnya mandi? Apakah mereka tetap mau makan siang dan minum kopi yang saya suguhkan? Tapi saya menyadari satu hal, ternyata mereka juga tidak berbeda dengan saya, mereka tidak lebih istimewa. Ternyata mereka memiliki kekurangan juga, yaitu tidak dapat mencium dengan baik.

JODOH

Suatu ketika gue pernah berbincang dengan ibu anak gue tentang pernikahan dan kaitannya dengan jodoh. Menurut gue, kalo ada dua orang menikah belum tentu mereka adalah jodoh masing-masing. Isteri gue merasa tidak sependapat dengan gue. Dia berpendapat kalo orang menikah itu pasti karena jodoh. Dia menentang argumen gue, katanya dengan berpendapat seperti itu, maka akan mudah sekali orang bercerai hanya bermodal perkataan bahwa mereka tidak jodoh.

Seperti sudah sering disinggung dalam Islam, sejak dalam kandungan Allah telah menuliskan tiga rahasia besar mengenai rezeki, jodoh, dan usia. Menurut gue ketiga hal ini akan menjadi garis akhir setelah kita menjalani proses untuk mencapainya. Kita tidak akan pernah tau berapa lama kita ditugaskan hidup di dunia ini. Batas usia kita baru akan diketahui setelah ajal menjemput, itu juga orang lain yang tau bukan kita si pelaku.

Begitu juga dengan konsep rezeki bagi gue. Allah memang sudah memberi kita sejumlah rezeki. Akan tetapi, kita tetap harus berupaya mencarinya. Kita tidak pernah tau seberapa besar mata air rezeki kita. Tapi seberapa besar saluran pengeluarannya tergantung dari usaha kita menggalinya. Kalau kita hanya berdiam diri di kamar, menunggu Allah mengirimkan rezeki yang sudah menjadi jatah kita, kapan kita berhasil. Uang tidak jatuh begitu saja dari langit, coy! Jangan pula kita marah apalagi dendam pada Allah kalau kita bekerja lebih giat dari tetangga kita, tapi dia lebih makmur. Setelah kita mengupayakan segala cara yang ada, hasil yang kita dapat itulah batas rezeki kita. Allah Maha Adil dalam menciptakan keseimbangan kaya dan miskin. Kesenjangan ini membuat roda ekonomi berputar. Kemiskinan juga sarana Allah untuk membuka kesempatan orang kaya untuk menambah amalnya. Jadi bukan hanya orang miskin yang banyak amalnya karena doanya didengar Allah.

Allah pun juga sudah menyiapkan mekanisme intervensi dalam proses pencarian rezeki kita. Doa merupakan salah satu channel untuk meminta Allah menggunakan hak intervensi-Nya. Namun, sekali lagi, kita tidak pernah tau seberapa besar tambahan rezeki untuk kita sampai kita mengupayakannya.

Kembali ke masalah jodoh, kita baru akan tau siapa jodoh kita setelah kita menjalani kehidupan bersama hingga akhir hayat. Adapun pernikahan itu hanyalah salah satu sarana untuk pencarian jodoh hakiki kita. Pastilah kita menikah karena kita merasa cocok dengan pasangan. Hal itu tidak gue pungkiri. Tapi untuk mengatakan dia jodoh gue, masih jauh awan dari bumi.

Proses seleksi jodoh pun sebenernya sudah dimulai dengan proses pertemanan. Kita sudah menyisihkan kandidat yang tidak sesuai dengan kriteria pencarian. Selanjutnya, dari kandidat yang tersisa akan dipilih satu orang-bisa juga lebih-untuk dijajaki dalam hubungan pacaran atau pengenalan lebih lanjut. Dan dari sekian banyak pacar serta mantan pacar, kita masuk ke tahapan seleksi lanjutan melalui lembaga pernikahan.

Jika seseorang memang berniat serius dalam mencari jodoh sejati, maka ia akan menjalani kehidupan berumah tangga secara serius. Mereka akan mengupayakan segala cara untuk bisa mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka. Percuma saja dua orang menikah karena mereka merasa jodoh, tapi mereka tidak mau mengupayakan solusi ketika mereka bertemu masalah.

Memang ada suatu mekanisme perceraian jika sebuah pernikahan tidak dapat dipertahankan lagi. Dalam agama pun perceraian tidak dianggap sebagai sebuah dosa. Allah tidak melarang perceraian akan tetapi Ia membencinya. Jadi perceraian adalah suatu hal yang dilegalkan dengan persyaratan yang ketat. Itu menjadi upaya yang bersifat final setelah upaya lain ditempuh. Pengadilan agama atau pengadilan umum juga tidak dengan mudahnya mengabulkan permohonan perceraian. Mereka akan melakukan upaya mediasi terlebih dahulu.

Allah juga sudah menyiapkan sistem koreksi atas sebuah perceraian dengan adanya talak 1 sampai 3. Katakanlah sebuah pasangan merasa tidak cocok dan memutuskan bercerai. Namun, setelah dievaluasi ternyata itu adalah keputusan yang keliru. Keduanya tetap dapat menikah kembali selama memenuhi ketentuan yang berlaku.

Jadi perceraian bukan berarti tidak jodoh. Keputusan bercerai juga tidak seharusnya dibuat secara tergesa-gesa dan tanpa pertimbangan matang. Akan tetapi, jika setelah segala cara ditempuh untuk mengatasi masalah, jika sudah tidak ada lagi kata sepakat, maka proses bercerai dapat ditempuh. Dan mungkin dengan begitu, baru seseorang dapat berkata bahwa mantan pasangan menikahnya tersebut bukan jodohnya.
Meminjam lirik dari lagu Iwan Fals berjudul “Entah”, “Aku cinta kau saat ini. Entah esok pagi...entah esok hari...entah”.

13 Agustus 2008

MENIKAH

Menikah memang sudah menjadi salah satu “kebutuhan” manusia. Gue pake tanda kutip pada kata kebutuhan sebagai satu catatan bahwa ternyata ada juga manusia yang merasa tidak butuh menikah. Entah karena memang komitmen dirinya yang tidak mau berkomitmen (sebenernya itu juga sudah merupakan satu komitmen, bukan?) atau ada faktor eksternal yang menghalangi dirinya untuk menikah. Misalnya, faktor biaya, siapa pun tau kalo hidup di dunia ini butuh uang. Kencing aja kita harus membayar padahal kita yang memberi air seni pada toilet umum. Gue gak cuma bicara masalah biaya untuk resepsi, yang umumnya berkisar pada hitungan juta. Dari pengalaman gue satu-satunya-karena memang gue baru sekali itu menikah-kita juga harus mengeluarkan uang untuk selembar surat ijin bersetubuh secara legal. Untuk menikahkan gue, sang penghulu meminta uang sekitar 500 ribu. Itu juga masih belum termasuk biaya administrasi lain. Sungguh ironis! Mereka bekerja di departemen yang berhubungan dengan Tuhan, tetapi mereka makan dengan mengkomersilkan agama.

Selain itu ada juga faktor peraturan yang menghalangi. Salah satu peraturan yang ada menyulitkan pernikahan beda agama, tapi di sisi lain mewajibkan pernikahan beda jenis kelamin. Kalau memang benar agama berada di domain pribadi warga negara, maka seharusnya negara tidak berhak melarang pernikahan beda agama. Yang terpenting adalah pernikahan tersebut tercatat secara resmi dalam arsip pemerintah. Atau mungkin ada banyak faktor lain yang gue sendiri belum tau.

Kira-kira kenapa kita mau menikah? Kalau dari sudut pandang agama, menikah itu adalah sarana untuk menghindarkan kita dari perzinahan. Pada kenyataannya, banyak juga orang yang berzina ketika mereka telah menikah. Kalau semua orang beralasan seperti itu, maka bukankah seharusnya tingkat perzinahan itu berada di titik rendah?

Ada juga orang yang bilang kalo mereka menikah karena sudah merasa cocok antara satu dengan yang lainnya dan tidak bisa hidup tanpa pasangannya tersebut. Gak salah juga kalo orang menikah atas nama cinta mati. Apa itu artinya mereka tidak membutuhkan seks? Gue jadi teringat sebait lirik lagu “Kelamin Uber Alez” buah karya The Panas Dalam, “Mengaku punya cinta murni...ujung-ujungnya minta kelamin”

Tapi gak sah juga kalo kita menikah hanya mendasarkan pada pemuasan syahwat. Bahasa sopannya adalah memiliki keturunan. Karena dari 100 persen waktu yang kita habiskan dalam pernikahan, mungkin gak sampe 40 persen waktu yang kita butuhkan untuk belajar bahasa inggris sederhana oh yes...oh god...oh no... lagipula, kalo hanya kepingin punya keturunan tidak perlu menikah. Yang perlu adalah berhubungan dengan lawan jenis. Toh, anak yang lahir kemudian hanya perlu tau siapa ayah biologisnya, dia tidak akan menanyakan apakah ayah dan ibunya menikah atau tidak.

Pasti ada juga yang pengen bertanya alasan kenapa gue menikah. Jawaban paling singkat mungkin karena gue pengen. Tapi secara logis, gue menikah karena negara mewajibkan gue menikah supaya anak keturunan gue diakui oleh negara. Negara gak mau mengeluarkan akte kelahiran seorang anak tanpa adanya ikatan pernikahan antara kedua orang tuanya.

Selain itu, pastinya urusan urat dan syahwat tadi. Gue ngebayangin kalo gue tiba-tiba butuh melampiaskan nafsu, kemana gue harus mengadu kelamin? berzina? Itu bukan proses yang mudah, bung! Kalaupun harus berzina dengan pacar, itu juga harus memperhitungkan situasi dan kondisi. Belum lagi kalau terjadi resiko kehamilan, toh gue juga akan diminta untuk menikah. Jadi menikah sebelum dinikahkan hansip. Gue juga bukan lelaki yang seneng jajan. Ngapain buang duit kalo bisa nyari yang gratisan dan aman pula? Jadilah gue menikah.

13 Agustus 2008

Bunda...

Bunda...
Gimana rasanya ada di Negara lain, benua lain? Pasti pertama kali menginjakkan kaki di aspal Ostrali, bunda merasakan kekaguman yang luar biasa atau setidaknya ada kegairahan yang beda. Hmm...aku juga dulu ngerasa kayak gitu koq. Banyak yang beda dengan Indonesia. Baik orang-orangnya, lingkungan dan gedung-gedungnya, maupun cuacanya. Biar kata sama-sama panas, pasti kita ngerasa beda aja.

Bunda...
Ini baru aja hari pertama. Tapi jujur aja aku udah ngerasa kehilangan. Bener kalo orang bilang, kita terlalu sering take for granted sama yang ada di sekitar kita. Pas udah jauh, baru kita ngerasa ada yang ilang. Terlebih lagi kalo ngeliat Tya. Untung aja dia belum terlalu ngerti kalo dia bakal ditinggal bundanya untuk waktu yang agak lama. Dia gak rewel sama sekali. Biar gitu, entah kenapa tadi pagi dia gak terlalu ceria seperti biasanya. Gak nangis sih...Cuma agak lebih pendiam aja. Entah itu perasaan aku aja atau emang beneran begitu.

Bunda...
Semalem yayah pulang bareng Oom Odong-Odong sama mama Ade. Aku anterin si Ade dulu ke kos-nya baru ngedrop Om Odong-Odong. Ternyata dia kos di dekat Sampoerna Strategic Square. Dari situ yayah ke kantor dulu. Ternyata, eh ternyata...itu sidang belon selesai! Tapi ya udahlah...yayah pulang aja. Sampe rumah jam setengah dua belasan. Si eneng udah tidur sama Kakek dan Nenek di depan tipi. Kata Nenek, dia gak mau tidur di kamar, jadilah betigaan di depan tipi. Daripada ngebangunin dia, yayah pulang aja sendiri ke rumah.

Ternyata rombongan papa juga gak cepat-cepat amat sampe di rumah. Mbak Sum minta dianterin ke daerah Priok untuk ngambil mobilnya. Gimana sih tu orang? Emang gak bisa apa diambil besok pagi aja? Tapi ya udahlah...toh mereka juga akhirnya sampe.

Bunda...
Tidur di rumah sendirian ternyata ada enak dan gak enaknya. Enaknya sih sepi...tenang...hehehe...apalagi si eneng tidur di atas. Santaiiii.... tapi gak enaknya tidur kebablasan. Apalagi semalem ujan...wah makin enak aja tidur. Akhirnya aku bangun pun jam setengah delapan. Alamat telat lagi sampe kantor. Sekalian aja aku berangkat agak siang, maen dulu sama si eneng.

Nenek laporan kalo semalem si eneng tidurnya gak tenang. Bukan karena mikirin kamu koq...gak usah geer gitulah! Mungkin karena gerah, dia minta dikipasin terus. Nenek sama Kakek kena piket ngipas semaleman. Kasian sih tapi gimana? Enak sih. Udah gitu popoknya tembus lagi. Pas tadi pagi mau aku gendong, Nenek ngelarang karena dia belom mandi dan dia celananya basah.

Bunda...
Jangan lupa telpon ke rumah ya. Kakek, Nenek, dan semua yang ada di rumah pasti pengen denger kabar dari kamu. Jangan Cuma telpon yayah aja. Terus jangan lupa emailnya dan mulailah tulis itu jurnal...

9 Juni 2009


FACEBOOK...OH...FACEBOOK

Teknologi harusnya memudahkan manusia. Itu setidaknya yang saya percaya. Sebelum ada teknologi, manusia harus melakukan segalanya secara manual. Manusia pun segera menyadari perlunya alat untuk memudahkan pekerjaan mereka. Dengan bakat inovasi yang dimilikinya, manusia lalu berusaha memikirkan cara untuk meringankan beban mereka. Satu per satu perkakas kemudian diciptakan. Mulai dari yang sederhana, seperti misalnya mata tombak atau mata panah untuk mendapatkan hewan buruan.

Seiring dengan berkembangnya peradaban manusia, kebutuhan manusia juga semakin bertambah dan semakin kompleks. Dan entah karena alasan itu atau lainnya, pada suatu ketika di daratan eropa, terjadilah perubahan besar-besaran. Suatu perubahan dalam tatanan masyarakat yang kelak dikategorikan sebagai satu era baru yaitu reformasi teknologi. Pada era tersebut, banyak sekali penemuan (invention) yang terjadi. Seperti misalnya penciptaan mesin uap, mesin cetak dan mobil. Sekali lagi, semua itu dalam upaya mendukung kinerja manusia dalam mencapai tujuannya.

Saya juga menilai, salah satu penemuan terhebat setelah arus listrik adalah komputer. Pada awalnya, yang namanya komputer itu hanya bisa membaca bilangan biner saja. Hanya angka 1 dan 0 yang mampu dibaca komputer. Sangat sederhana namun piranti yang dibutuhkan teramat rumit dan besar. Saya tidak begitu memahami sejarah perkomputeran, tapi saya masih ingat pengalaman ketika saya masih kecil yang berhubungan dengan komputer.

Saya termasuk beruntung karena saya sudah bersentuhan dengan komputer sejak kecil, meskipun secara tidak langsung. Ayah saya bergelut dalam dunia perkomputeran, khususnya pengolahan data, tanpa melalui pendidikan formal. Beliau hanya seorang tamatan sekolah ekonomi atas atau SMEA. Dulu, beliau sering membawa pulang gulungan besar berdiameter sekitar 30 atau 40 sentimeter pita berwarna hitam. Beberapa tahun kemudian saya baru mengetahui bahwa itu adalah gulungan pita magnetik.

Beberapa kali juga saya dibawanya ke sebuah ruang yang sangat dingin. Dalam ruangan itu terdapat jejeran kotak besi berukuran besar. Seperti kulkas dua pintu. Itu adalah ruang server. Dan di salah satu kotak tersebut, pita magnetik itu dipasang sebelum digunakan. Sangat memakan tempat dan tidak praktis.

Dalam perkembangan berikutnya, saya diajak bergaul dengan komputer pribadi atau Personal Computer (PC). Karena pandangan visioner ayah saya, saya sudah memiliki sebuah PC dengan kemampuan ala kadarnya di rumah. Saya kemudian “dipaksa” menggunakan program-program yang terdapat di dalamnya. Mungkin masih ada di antara anda yang pernah bersentuhan dengan program WS untuk mengetik dan LOTUS untuk pengolahan data sederhana. Saya sempat memahami beberapa fungsi dalam kedua program tadi.

Pun ketika teknologi komputer itu semakin berkembang dengan program Windows® yang kerap berubah sesuai jaman, saya tergolong cepat untuk berinteraksi dengannya. Hubungan saya dengan teknologi komputer melambat ketika saya mulai kuliah. Pada masa tersebut, teknologi internet mulai merambah Indonesia. Perlahan saya mulai mengenalnya melalui media warnet (warung internet). Saya mulai paham apa itu surfing, browsing, chatting, downloading dan segalanya.

Ternyata, komputer bukan lagi hanya sekadar sarana untuk mencari informasi secara mudah. Dengan mewabahnya situs pertemanan friendster, orang menjadikan internet sebagai sarana berinteraksi sosial. Semua orang harus bergabung dengan friendster, yang tidak punya account di friendster dianggap tidak gaul atau kuno. Saya agak terlambat untuk bergabung di friendster. Itu juga tidak terlepas dari tempat kerja saya yang tidak didukung oleh sambungan internet.

Meskipun begitu, pada dasarnya saya memang tidak terlalu antusias dengan keberadaan si friendster tadi. Saya kurang merasa nyaman mengekspose diri saya kepada publik. Untuk saya, lebih baik saya membuka diri saya selebar-lebarnya kepada orang yang saya kenal dengan baik secara fisik. Bukan hanya secara virtual. Lebih lagi ketika saya harus mengevaluasi diri saya dengan menyebutkan apa yang saya suka, buku apa yang menjadi favorit saya, dan segala macam informasi seperti itu. Teman-teman saya bahkan banyak yang tidak mengetahui detil informasi tentang saya. Kalaupun ada yang mengenal saya dengan baik, itu butuh waktu berbulan-bulan dan tidak hanya sekejap saja. Mengenal seseorang tidak hanya semudah menekan klik pada tikus elektronik anda.

Era friendster pun segera berlalu dengan terbitnya Facebook. Demam facebook ternyata lebih dahsyat. Epidemi facebook secara cepat melanda seluruh penjuru dunia. Semua orang berlomba-lomba mengambil tempat di situs pertemanan elektronik tersebut. Kelebihan facebook dibandingkan friendster adalah fitur yang lebih lengkap dan akses yang lebih mudah. Selain ada ukuran jumlah teman kita yang sudah mengenal kita, facebook juga menawarkan sarana untuk berkomunikasi antar teman melalui fasilitas chat dan wall-to-wall. Lebih jauh lagi, kita juga dimungkinkan untuk memantau apa yang sedang dilakukan teman kita dengan membaca status mereka. Pengelola facebook juga memudahkan para pengguna untuk menampilkan foto-foto koleksi pribadi mereka.

Bayangkan, saya terkejut bukan kepalang ketika seorang teman secara tidak dinyana menampilkan foto saya pada waktu awal kuliah. Tidak lama kemudian, ada seorang teman lain yang sudah lama sekali tidak bertemu menampilkan foto ketika saya masih di kelas 6 SD. Di satu sisi memang saya merasa senang dan lucu melihat foto saya ada di sana. Tapi kemudian saya juga merasa aneh mengetahui bahwa ada kemungkinan orang di seluruh penjuru dunia melihat bahkan mengambil foto saya ketika saya masih polos dan belum ternoda seperti itu.

Untuk saya, itu sudah merupakan pelanggaran domain pribadi. Tapi saya tidak dapat melakukan tindakan hukum apapun terhadap teman saya yang menampilkan foto tersebut. Bukan karena tidak ada sarananya, tapi saya tidak punya biaya untuk mengakses sarana tersebut. Kalau pun ada biaya tersedia, saya agak malas untuk melakukannya. Jadi, ya sudahlah. Tetap saja itu tidak membenarkan siapapun untuk masuk ke ranah personal tanpa ijin dari pihak-pihak yang terlibat. Bayangkan, jika ada foto tidak senonoh yang melibatkan saya dan banyak orang lain sebagai korban. Apakah itu tidak membuat saya kemudian menjadi depresi dan traumatik?

Selain itu juga, saya mencoba melihat facebook ini dari sudut pandang The Changcutters. Facebook racun dunia... Memang pada kenyataannya facebook adalah racun otak. Sebuah artikel di suratkabar pernah mengatakan bahwa facebook telah membuat jutaan orang menjadi gila. Berapa orang sudah diracuni facebook untuk menjadi narsistik dengan menampilkan foto yang bertujuan untuk dilihat banyak orang dan dengan mengganti status setiap saat mereka melakukan kegiatan yang berbeda. Bahkan ada orang yang menuliskan status mereka sebagai “abis makan, neh...ngantuk”. untuk saya itu adalah kesia-siaan. Apa urusan saya dengan kenyataan bahwa anda baru saja makan? Itu toh tidak membuat saya menjadi kenyang. Saya memang tidak peduli, akan tetapi ketidakpedulian saya terusik dengan pengumuman bahwa teman saya itu telah mengganti statusnya menjadi seperti yang saya sebut di atas. Seketika ketidakpedulian saya membuat saya menjadi peduli untuk melihat status tersebut.

Sebuah komik strip di sebuah surat kabar nasional bahkan pernah mengangkat fenomena ini. Dua orang sahabat mengupayakan membeli dua buah komputer jinjing yang identik. Dalam scene selanjutnya digambarkan mereka mendaftar sesuatu secara on-line. Ketika proses pendaftaran selesai, mereka terlihat gembira dan mengatakan bahwa mereka sekarang menjadi teman di facebook. Saya menangkap ada sebuah satir dari kenyataan hidup yang telah mengubah makna dan paradigma pertemanan dari hubungan interaksi sosial antar individu menjadi interaksi secara maya antar individu.

Lebih menarik lagi kalau kita kembali ke khittah pembicaraan tentang mengapa teknologi itu dimunculkan. Apakah facebook itu juga merupakan sarana untuk mempermudah kerja dan meningkatkan kinerja? Mungkin iya dan mungkin tidak.

Bagi seorang Barrack Obama yang kini menjadi Presiden AS ke-44, facebook memainkan peranan yang sangat penting dari kesukesannya menduduki tampuk tertinggi di negara adidaya tersebut. Dia bisa menjaring jutaan pendukung melalui situs sosial seperti facebook. Begitu efektifnya jejaring sosial ini untuk mengubah nasib seseorang.

Facebook juga perlu diakui lebih efektif dari friendster dalam mencari teman lama. Saya tidak pernah mengira bahwa saya akan bertemu secara tidak langsung dengan teman-teman SD saya. Kami sudah terpisah jarak dan waktu selama lebih dari lima belas tahun. Dengan jalan hidup yang berbeda antara satu dan lainnya, sangat sulit melacak jejak mereka di dunia yang sangat luas ini. Mungkin anda juga mengalami hal semacam ini, bertemu dengan mantan pacar yang kini sudah memiliki anak dua misalnya. Atau, mungkin saja anda bertemu dengan musuh bebuyutan anda ketika anda masih ingusan dulu, masih kesalkah anda padanya?

Namun, mungkin masih sangat banyak orang yang belum dapat memanfaatkan situs ini secara optimal untuk mendukung kerja dan kinerja mereka masing-masing. Facebook malah menjadi pelarian mereka dari beban kerja dan beban hidup. Facebook menjadi taman hiburan di mana setiap orang dapat bertemu, bertegur sapa, saling memamerkan kelebihan dan kesuksesan masing-masing. Facebook sudah menjadi sirkus virtual dengan segala macam arena permainan. Anda ingin bermain tembak-tembakan? Facebook menyediakannya. Anda ingin berpura-pura menjadi mafia? Facebook bisa memfasilitasi.

Memang selalu ada konsekuensi. Sekali anda kecanduan bertempat di facebook, aliran informasi ke piranti komputer anda akan terhambat. Kata orang-orang cerdas, itu yang disebut bandwidth. Ibarat manusia, bandwidth itu adalah pembuluh darah yang mengalirkan oksigen ke otak komputer. Nah, keberadaan facebook itu seperti kolesterol yang mempersempit pembuluh darah sehingga aliran tersebut menjadi terhambat. Akibatnya, komputer menjadi lambat dalam berpikir bahkan mungkin saja mengalami serangan stroke yang membuat komputer tidak dapat melakukan apa-apa.

Saya tidak bermaksud menyalahkan atau menyerang orang yang mengakses facebook dengan fasilitas umum. Itu hak mereka, tapi saya tidak mendapatkan kenyamanan maksimal dari situs semacam itu. Jika ada pihak lain yang dirugikan dengan kegiatan semacam itu, maka itu adalah konsekuensi logis. Seperti ketika kita melihat data korban kecelakaan lalu lintas. Jumlah korban semakin banyak seiring dengan kemajuan dunia otomotif yang menghadirkan kendaraan sangat cepat dan supercepat. Saya yakin jumlah korban jiwa akibat tabrak lari ketika orang masih menggunakan kereta kuda tidak terlalu signifikan. Bahkan, dalam sebuah peperangan teknologi justru menghadirkan jumlah korban jiwa yang lebih banyak. Ketika peperangan masih menggunakan sarana seperti tombak dan panah, jumlah korban relatif sedikit. Ketika bahan peledak digunakan, jumlah kematian semakin banyak. Terlebih lagi ketika era nuklir dan bom curah seperti yang digunakan di Palestina.

Begitu kira-kira konsekuensi negatif dari penerapan teknologi. Mungkin yang perlu dilakukan adalah membuat suatu regulasi yang mengikat mereka saat mengakses teknologi. Kalau tidak salah, penggunaan nuklir pun sudah ada pembatasannya. Itu dimaksudkan untuk mengurangi kerugian bagi orang lain yang tidak terlibat langsung. Pun begitu pula dengan teknologi informasi. Pasti ada kerugian yang dialami orang lain selama penggunaan teknologi informasi tidak lakukan secara bertanggung jawab.

Jika seseorang memiliki komitmen yang kuat dalam bekerja, maka saya yakin yang bersangkutan tidak akan terdistorsi dengan keberadaan facebook. Semua yang kita lakukan berawal dari niat. Jika kita niat datang ke kantor untuk bekerja, maka kita secara tidak sadar telah menentukan target sasaran. Pada akhir hari, kita bisa mengukur keberhasilan kita mencapai target yang telah kita tentukan. Kalau tidak tercapai, apa masalahnya dan apa pula solusinya. Untuk itu, terkadang orang dibantu dengan sebuah buku agenda kerja. Sering kali buku agenda tersebut lebih dari satu.

Sering kali kita berangkat dari rumah menuju kantor tanpa niat yang bulat. Kita hanya berangkat karena memang itulah rutinitas yang harus kita kerjakan setiap hari. Masalah apa yang akan kita kerjakan kemudian, itu urusan belakangan. Sehingga kita kesulitan menentukan target kita dan mengukur keberhasilan kita.

Selain itu, terkadang kita terlalu permisif dan apologetik pada diri kita. Tatkala kita tidak dapat mencapai target individu, kita dapat dengan mudah memaafkan diri kita. Toh, besok masih bisa dilanjutkan. Itu alasan kita. Selain itu juga kita cepat mencari alasan pembenaran. Saya pikir tidak ada salahnya jika saya bersantai sejenak karena itu adalah hak saya setelah bekerja keras. Begitu alasan kita. Padahal, hal tersebut menunjukkan tidak kuatnya niat kita bekerja.

Lupakan masalah konsentrasi. Bohong kalau ada yang bilang kalau orang tidak bisa fokus bekerja sementara mengakses facebook. Tidak ada masalah jika kita tetap membiarkan situs itu terbuka selama kita mengerjakan tugas yang lain. Pada saat saya membuat tulisan ini pun, saya tengah berada dalam rapat untuk menentukan masa depan organisasi kantor. Saya akui memang saya tidak fokus 100 persen pada rapat ini. Tapi, saya menyangkal jika saya tidak mengikuti rapat ini dan saya tidak menangkap poin-poin penting yang dihasilkan.

Tutuplah akses facebook, hapuskan friendster selamanya. Itu hanya menyelamatkan bandwidth di kantor anda. Saya tetap agnostik dengan peningkatan kinerja pegawai anda serta anda sendiri seiring dengan penghalangan akses tersebut. Selama setiap dari kita tidak memiliki komitmen dan integritas yang kuat, tidak akan ada peningkatan hasil kerja dan kinerja.
4 Maret 2009